Kamis, 20 Maret 2014

Topeng Malangan

Topeng Malang merupakan pementasan wayang Gedog yang dalam pertunjukannya mempergunakan topeng. Dalam perkembangannya di Kedungmoro dan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang yang dikenal dengan sebutan Topeng Jabung. Dalam pementasannya mengetengahkan ceritera-ceritera Panji dengan tokoh-tokohnya seperti : Panji Inu Kertapati, Klana Swandana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, dll. Para penari mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam pementasan dipergunakan tirai yang terbelah tengah sebagai pintu keluar/masuk para penarinya.
Maestro Topeng Malang, yang tetap melestarikannya adalah Mbah Karimun bersama istrinya Siti Maryam, dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan.
Demikian pula Mbah Kari ( kelahiran Desa Jabung Malang,1936 ) dengan tekun memahat dan mengukir kayu untuk dibuat topeng. Ketekunan yang dilandasi oleh semangat pengabdian dan kesetiaan pada tradisi topeng yang diwarisi dari nenek moyangnya, walaupun di usia tuannya masih dengan penuh semangat melatih para penari usia muda, memberikan contoh ragam-ragam gerak tari topeng Malangan versi Jabung.

Pengertian Topeng Malang
Menurut KBBI, tari adalah gerakan badan yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian. Kemudian, pengertian topeng adalah penutup muka yang menyerupai muka orang, binatang, dan sebagainya.
Dalam “Tari Topeng Malang” dapat diartikan sebagai gerakan badan yang berirama dengan diiringi bunyi-bunyian dengan menggunakan penutup muka yang menyerupai muka orang yang berasal dari Kabupaten Malang.
Lokasi Penelitian Keberadaan Topeng Malang


Gambar Sanggar Tari Asmoro Bangun di Desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dengan Beberapa Penari
Kedungmonggo sebagai sebuah dusun di kaki gunung Kawi merupakan salah satu kantong persebaran seni budaya tari topeng Malang. Keberadaan kesenian tari topeng di dusun ini sekarang masih terbilang cukup terkenal jika dibandingkan dengan komunitas lain yang juga berada di wilayah gunung Kawi dan wilayah kabupaten Malang lainnya, yang letaknya lebih ke arah atas gunung Kawi. Hal ini didukung oleh letak geografis kawasan Kedungmonggo yang relatif mudah dijangkau oleh konsumen kesenian tari topeng karena jaraknya dari jalan raya Malang-Kepanjen hanya berkisar 500 meter ke arah barat. Tak ayal, kondisi ini membantu mempermudah proses sosialisasi hasil kesenian khas Malang ini kepada masyarakat umum, khususnya kepada penduduk Malang Raya.
Kondisi di atas secara eksternal juga didukung dengan polesan konstruksi budaya Hindu-Jawa di lokasi sekitar dusun Kedungmonggo mengingat akar sejarah kemunculan tari topeng adalah hasil ritual kebudayaan Hindu. Dukungan kultural ini bisa dirasakan karena di kawasan desa Karangpandan, induk dari dusun Kedungmonggo juga masih bisa ditemui pemeluk agama Hindu meskipun mayoritas penduduk sudah memeluk agama Islam. Polesan budaya tersebut bisa dilihat dari adanya bangunan pura yang saat ini jarang ditemui di wilayah Malang, yang berjarak tak lebih dari 300 meter dari pusat dusun Kedungmonggo. Selain itu di samping pura terdapat pula sekolah keagamaan hindu yang peserta didiknya adalah masyarakat sekitar Pakisaji.

Sejarah Singkat Tari Topeng di Indonesia
Seni tari topeng merupakan kesenian khas Indonesia yang sudah ada semenjak zaman nenek moyang. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki sejarah tentang pertunjukan menggunakan topeng. Di Jawa pertunjukan seni tari topeng telah dikenal semenjak tahun 762 Saka (840 M). Hal ini dijelaskan dalam prasasti Jaha dan di kala itu topeng dijadikan sebagai sarana utama ritual pemujaan dan pertunjukan yang dikenal dengan istilah Atapukan. Istilah lain yang juga sering digunakan yaitu istilah Raket, Manapel dan Popok. Dari beberapa istilah tersebut semuanya menjurus pada satu arti yaitu berarti penutup wajah yang pada saat ini juga bisa disamakan dengan arti kata ”Topeng.”
Dalam literatur lain disebutkan bahwa keberadaan topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jatim yaitu kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar kota Malang. Tepatnya, kesenian ini telah muncul sejak zaman Mpu Sendok. Saat itu, topeng pertama terbuat dari emas, dikenal dengan istilah Puspo Sariro (bunga dari hati yang paling dalam) dan merupakan simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahandanya, Dewa Sima .
Berbarengan dengan munculnya kesenian tari topeng yang telah diceritakan muncul pula kesenian bercerita yang dilakukan oleh para dukun (Samman) yang isi dari cerita itu merupakan kisah tentang sejarah perilaku nenek moyang suatu komunitas tertentu. Kesenian ini dinamakan Ringgit atau Aringgit. Adapun peran pencerita pada zaman sekarang lebih sering dilakukan oleh dalang. Proses penceritaan kisah tersebut menjadi sebuah wujud penghormatan bagi nenek moyang yang bersifat animistik dan sarana pemanggilan ruh. Hidayat menyebutkan :
Tari atau drama topeng dianggap sebagai sarana untuk pemanggilan roh – roh nenek moyang atau roh-roh baik untuk masuk merasuk ke dalam tubuh para penari. Sehingga para pelaku tidak lagi memainkan diri tetapi beralih sebagai wadah (tempat) hadirnya roh nenek moyang. Mereka datang untuk memberikan perbuatan baik atau menerima penghormatan (puja bakti).
Fenomena ini merupakan ciri khas yang dimiliki oleh masyarakat Jawa primitif pra Hindu di wilayah Jawa.


Pembuatan Topeng Malangan.
          Untuk bahan dasar pembuatan topeng itu sendiri tidaklah sulit untuk dicari, sebenarnya semua kayu bisa digunakan sebagai bahan pembuatan topeng, namun ada jenis kayu yang biasanya digunakan untuk bahan membuat topeng di antaranya mahoni, rambutan, waru, sengon, randu, kembang, pete, alpukat, klengkeng, nangka, sawo, dan pule, tutur Mak Mariam.
Ada pula alat-alat khusus yang sesuai dengan fungsinya masing-masing untuk membuat topeng Malangan ini, di antaranya adalah :
  • Kapak atau gergaji, digunakan untuk membelah batang pohon yang masing berbentuk tabung dengan ukuran tinggi 21cm menjadi 2 bagian yang sama.
  • Gergaji tangan, untuk memebentuk bagian atas topeng.
  • Patuk, untuk membuat cekungan bagian dalam topeng.
  • Tatah, untuk membentuk pola dasar ( muka ) topeng.
  • Pangot
  • Gergaji Pelat, untuk melobangi mata topeng.
  • Kerok, untuk menipisi dan memperhalus bagian dalam topeng.
Mbah Karimun sang Maestro Topeng Malangan ini sekarang tidak berdaya lagi untuk membuat topeng karena kesehatan beliau yang semakin menurun. Sehingga untuk tetap melestarikan budaya topeng Malangan ini, di alihkan kepada istrinya baik dalam pembuatan topengnya ataupun dalam seni tari itu sendiri. Dalam pembuatan topeng Malangan itu sendiri ibu Siti Mariam mengggunakan modal sendiri untuk membeli semua bahan dan peralatan. Sedangkan jika saya tilik dari keadaan kehidupan mereka, Mbah Karimun dan Mbah Maryam hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk biaya berobat Mbah Karimun yang semakin renta. Sehingga, wajarlah andaikan Mak Yam (panggilan sehari-harinya) hanya bisa membuat topeng dengan stok yang terbatas. Mak Yam membuat topeng dalam jumlah besar ketika mendapatkan pesanan saja. Dalam membuat topeng, Mak Yam biasanya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
  • Kayu (yang telah kami sebutkan jenisnya diatas tadi), dengan ukuran tinggi 21cm kemudian dibelah menjadi dua bagian yang sama (10,5cm).
  • Kayu tersebut kemudian dibuat menjadi 7,5cm.
  • Setelah menjadi ukuran 7,5cm, kayu tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk rangka sebuah wajah seperti pada gambar di atas.
  • Setelah mendapatkan bentuk dasar dari topeng apa yang ingin dibuat, kemudian mulailah pembuatan ukiran pada atas topeng (lung luwe, dele kecer, kembang suryo, dan ukel).
  • Membentuk pipi.
  • Membentuk bibir.
  • Memperhalus bentuk mata.
  • Memperhalus bentuk ukiran rambut.
  • Setelah semua sudah cocok dengan karakter yang diinginkan barulah memperhalus semuanya dengan ampelas halus.
  • Setelah itu proses pewarnaan.
  • Dan finishing.
Proses pemasaran Topeng Malangan ini tidaklah terstruktur sebagaimana pemasaran barang-barang dagang lainnya. Rata-rata pembeli datang langsung ke pengrajin untuk memesan taupun membeli langsung topeng yang sudah tersedia. Harga dari Topeng ini berkisar antara Rp. 20.000,- hingga 5 jutaan., tergantung dari karakter topeng. Karakter topeng yang dimaksud disini adalah sifat, laku, dan pembawaan yang dimiliki oleh masing-masing topeng. Pembuatan 1 buah topeng bisa memakan waktu hingga 1 minggu (minimal).
Hingga tahun 2000-an paling tidak, ada 4 sentra pengembangan seni topeng malang. Selain di Glagahdowo, ada juga sentra topeng milik Ki Soleh di Mangundarmo, Tumpang, Kedungmonggo, Pakisaji milik Mbah Karimun, dan di Jabung Pakis. Perbedaan keempat sentra tersebut semata dimungkinkan karena pengaruh geografis serta interpretasi para pewarisnya. Dari itu muncul aliran-aliran khas daerah pembuatnya. Seperti halnya perbedaan tekstur topeng yang tergantung dari keterampilan para pembuatnya. Misalnya saja di Glagahdowo, tekstur Sekartaji terkesan lebih putih dan gemuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar